Cari Artikel

Monday, July 11, 2011

Awas ada Spilis! (Bahaya Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) Prikitiew …

Melawan dan Menawan Spilis (Sebuah Pengantar)

SAHABAT, kamu tahu kan kalau umat Islam dari dulu hingga kini masih dilanda berbagai masalah? Kita diserang dari segala sisi nih. Bukan saja di saat kita terbangun dari tidur, bahkan di saat kita tidur sekalipun kita masih dalam kondisi diperangi. Mungkin engga’ semua umat Islam merasakan hal ini, tapi ini faktanya. Itulah yang dikenal dengan sebutan perang pemikiran (ghozwul fikr).

Yang perlu digarisbawahi, dalam konteks Indonesia, pertarungan pemikiran ini mencapai titik puncaknya pasca-kemerdekaan. Fenomena ini merupakan realita paling kental yang menandai kehidupan sosial-politik masyarakat Dunia Ketiga pasca-kemerdekaan. Itulah pertarungan ideologi anak negeri dan kemanusiaan.

Sebagai fenomena sosial, kata Anis Matta , pertarungan ini dilatarbelakangi oleh kekosongan ideologi yang dialami Dunia Ketiga setelah hengkangnya imprealisme dari negeri mereka. Dalam kaitan inilah, lanjut Anis, pertarungan ideologi dapat ditafsirkan sebagai pertarungan dalam mengukuhkan jari diri ideologi. Ini bukan pertarungan antara pembaharuan dan konservatisme. Tapi secara sosiologis, polemik ini merefleksikan pertarungan internal antara orsinalitas dan imitasi. Antara kebenaran dan kebatilan, antara yang jelas dan yang abu-abu.

Analisa sosiologis ini, diakui atau tidak, mendapatkan pembenaran kuat dari substansi pemikiran yang ditawarkan oleh mereka yang secara sepihak, menyebut dirinya pembaharu, toleran, cinta perdamaian dan lain-lain. Ide-ide pembaharuan itu jika dikaitkan dengan ide pembaharuan yang pernah muncul dalam belahan dunia Islam lainnya, mirip dengan apa yang disebut oleh Anis Matta sebagai “onde-onde” yang ditawarkan secara bergilir kepada setiap Negara Islam. Sangat jauh dengan gagasan tajdid (pembaharuan) dan ijtihad para ulama yang sesungguhnya. Bahkan nyaris tak ada korelasinya sama sekali.

Bagiku, ide-ide pembaharuan atau “isme-isme” yang ditawarkan tersebut, tidak lahir dari rahim perenungan yang mendalam terhadap prolematika umat dan sumber ajaran Islam yang sesungguhnya. Juga bukan dari kegelisahan intelektual atau pencarian kebenaran. Ini adalah “kegenitan” dan “kegatalan” yang sudah akut. Dari nafas ide-ide itu, yang sering tercium justru aroma kekalahan jiwa dan kekosongan pikiran sehat. Konklusinya sering dibangun dari premis yang tidak berbalur secara logis, sebuah latar yang sering mereka gaungkan. Atau bahkan aku menyaksikan jika jiwa dan nalar sehat mereka teracuni dan terputus secara tiba-tiba oleh virus inferiority complex.



Sangat mungkin terjadi, bahwa fenomena munculnya berbagai pemikiran dengan latar “isme” yang beragam di negeri kita ini, atau di dunia Islam, merupakan sebentuk pembenaran atas teori Ibnu Khaldun yang dikatakannya sekitar lima abad yang lalu. Beliau mengatakan, “Umat yang kalah itu, cenderung mengikuti umat yang mengalahkannya. Sesuatu yang dilakukannya untuk menghapus trauma kekalahannya.”

Segalanya bermula dari kata, tulis seorang penya’ir. “Kita percaya pada Tuhan pun karena kata-kata,” begitu selanjutnya. Mengutip kata Pak Anis Matta, “Memang barangkali ada benarnya, jika dikatakan bahwa “kata” merupakan awal dari setiap gerak manusia. Orang sering menyebut, “kata” sebagai abstraksi kenyataan gerak yang diragakan oleh makhluk manusia.

“Orang berkata-kata, orang menyampaikan gagasan. Kata, alhasil, adalah dutanya pemikiran, wujud konkrit dari gugusan ide-ide di kepala … semuanya menjadi mungkin karena “kata””, lanjut Anis.
“Tapi tunggu dulu”, lanjut Anis. “Apa cuma berhenti sampai di situ saja keberadaan kata? Bukankah kepentingan orang bisa beragam, bahkan suatu saat dalam kenyataannya tabrakan interest itu selalu ada? Nah, padahal kata-kata selalu tunduk kepada lidah dan pikiran pengucapnya. Tak ayal lagi, kata-kata yang beredar di belantara perbahasaan manusia terlihat begitu nisbi. Idiom-idiomnya selalu berubah, konotasi yang ditunjukkan sebuah vocabullary gampang terbalik.”

Ah tak perlu terbelit-belit! Toh pada akhirnya orang kebanyakan, man in the street, tak bisa secara pas memaknai kata fundamental. Sehingga kata ini begitu saja dilekatkan kepada sebagian saudara kita di Palestina yang membela diri dengan nada negatif. Bahkan mereka yang doyan dengan “isme-isme” tersebut tak segan-segan menamai para cendekiawan muslim dan MUI yang menentang dan yang mengharamkan “isme-isme” tersebut sebagai aktivis atau ulama fundamentalis.

Kenyataan lain, ada segelintir umat Islam yang menjadi pendengar setia Reuters, AFP, AP, UPI akhirnya tak bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa di Bosnia, Palestina dan berbagai Negara muslim lainnya sedang terjadi Islamic Cleansing dan bukan Etnich Cleansing seperti yang diberitakan oleh corong-corong Barat.

Btw, kamu kenal kan Pak Adian Husaini kan? Ya, bagiku beliau memiliki banyak beban dan tanggung jawab untuk masalah yang satu ini. Karena selain sebagai salah petinggi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan pengajar di pasca sarjana Ibnu Khaldun Bogor, Jawa Barat, beberapa tahun yang lalu beliau sudah menyelesaikan gelar doktoralnya pada bidang Pemikiran dan Peradaban Islam. Kita berterima kasih kepada beliau karena tetap setia dalam dunia ilmu dan pendidikan. Kita tentu perlu mengambil peran dalam kerja mulia ini.

Pada tahun 2005, KAMMI Komisariat UIN Sunan Kali Jaga Yogjakarta dan KAMMI Daerah Istimewa Yogjakarta bekerjasama dengan INSISTS, ISDIC dan berbagai kampus PTAI Se-Indonesia mengadakan Workshop Pemikiran Islam di Yogjakarta. Ketika itu aku menjadi peserta yang merupakan delegasi dari KAMMI UIN Sunan Gunung Djati Bandung—yang ketika itu masih IAIN . Jujur saja, waktu itu aku merasakan suasana yang serius namun mengasyikan.

Bagimana tidak, aku dan para peserta yang hadir diajak untuk memasuki dunia pemikiran dengan berbagai sudut pandang dan dinamikanya. Sebuah kondisi yang belum aku alami sebelum-sebelumnya. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa. Pikiranku jadi terbuka namun aku merasa tetap dalam bingkai pemikiran islami atau yang lebih tepat disebut dengan istilah Pak Hamid Fahmy Zarkasy sebagai Islamic Worlview. Untuk itu, aku mesti mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada Prof. Mohd Wan Daud, Prof. Yuniar Ilyas, Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, Dr. Anis Malik Toha, Dr. Syamsudin Arif, Dr. Sugiharto, Dr. Nirwan Syafrin dan yang tak cukup aku sebutkan namanya di sini, yang secara tulus dan lugas menjadi pemateri pada acara tersebut.

Sebagai upaya mendalami berbagai pemikiran, dari tahun 2005 hingga kini aku berusaha untuk selalu melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan beliau semuanya. Karena keterbatasan dan kekurangan, alhamdulillah hingga kini aku masih bisa ditakdirkan untuk silaturahim dengan Pak Adian Husaini. Banyak manfaat yang aku peroleh dari silaturahim dan diskusi-diskusi dengan beliau. Mudah-mudahan ilmu yang sering beliau sampaikan menempati posisi yang mulia di sisi Allah sebagai bagian dari upaya pewarisan.

Menurut Pak Adian Husaini—sebagaimana sebagian isi nasehat beliau ketika aku silaturahim ke rumah beliau di Depok—di antara masalah yang paling besar yang sedang dialami umat Islam sekarang ini adalah masalah pemikiran. Ia berawal dari problem ilmu. Aku masih ingat kata beliau ketika itu, “Sekarang ini adalah saat terbaik untuk melakukan jihad intelektual. Sebab semua ini terjadi karena salah dalam memahami ilmu dan sumber ilmu. Jika itu yang terjadi, maka semuanya menjadi keliru.”

Hampir sama dengan Pak Adian, Pak Hamid juga memberi porsi yang tak sedikit pada masalah pemikiran Islam ini. Mengingat kembali pernyataan beliau, “Masalah besar umat Islam sekarang ini adalah masalah ilmu yang berawal dari kelemahan umat Islam dalam memahami Islamic worldview.”

Hm hm hm bahaya juga ya sahabat. Kalau aku and kamu diam terus santai aja dengan kondisi dan ujian umat seperti ini, bisa jadi menjadi korban baru nih. Nah, karena itu menurutku layak bagi aku, kamu and siapapun tuk mendalami ilmu yang dibilangin sama Pak Hamid itu. Selain sebagai kewajiban, hal ini merupakan salah satu di antara cara terbaik kita dalam menghadapi ujian dan fitnah tersebut. Iya kan?

Benar sahabat. Berbagai “isme” yang muncul akhir-akhir ini merupakan istilah yang berbunga-bunga dan penuh dengan janji. Janji tentang kehidupan damai dan rukun antar masyarakat yang berbeda-beda latar sosial, budaya, ras, etnik, dan agama. Tentu saja, bagi masyarakat majemuk seperti Indonesia, “isme-isme” tersebut memberi berbagai janji yang seakan-akan mendatangkan kemaslahatan. Iya kan, sahabat? Padahal, itu hanya bo’ongan belaka. Suer, semua itu hanya tuk “ngakalin” kita, bahkan tuk “nyesatin” umat Islam yang ratusan juta ini. Ck ck ck bahaya and bahaya kan?

Sahabat, aku hanyalah di antara manusia sekaligus rakyat biasa yang menonton bahkan kadang tercemari angin beliung “isme-isme” tersebut. Bahkan aku menyaksikan betapa tak sedikit kaum intelektual di dunia kampus dan tokoh-tokoh organisasi berlabel agama (Islam) yang serta merta mendalami, meyakini hingga meng-‘khotbahkan’ berbagai “isme” tersebut dengan nalar-nalar picik dan dangkal. Ya, menurutku mereka sangat picik and dangkal. Ini bukan fitnah, tapi ini nyata kok. Lebih jelasnya, baca aja dalam tulisan pada halaman-halaman berikutnya. Atau jangan-jangan kamu juga sudah menjadi korban nih? Hayo juju aja deh…! Alhamdulillah kalau engga’.

Sahabat, aku hanyalah satu kerikil kecil yang bercampur baur dalam ratusan juta umat manusia. Dengan segala keterbatasan dan kelemahan aku merasa perlu untuk berbicara. Hal ini aku lakukan bukan untuk menyombongkan diri, apalagi untuk mempertontonkan keangkuhan. Sama sekali tidak, sahabat. Aku hanya ingin mengejahwantahkan keyakinan dan ketaatanku kepada ajaran agama yang aku cintai yaitu Islam. Aku sangat rindu bertemu dengan Allah kelak dalam kondisi ceria bukan dalam kondisi masam dan seram karena aku membiarkan kemungkaran intelektual semakin merajalela. Jadi, izinkan aku berbicara—yang aku awali dengan pernyataan berikut: “Hey, lu yang muslim tapi sok ngelindur ke mana-mana. Ilmu tafsir, ilmu hadits and ilmu-ilmu yang lainnya dalam khazanah Islam aja belom lu baca and pahami… Tapi kok injil and buku-buku yang lain lu baca? Ga salah sih, tapi kacian aja ama diri lu. Ilmu dasar yang menentukan dunia-khiratmu lu jauhin. Yang paling aneh lagi nih, lu pernah bilang kalau lu itu gaul, toleran, pro sekularisme, pluralisme, liberalisme, feminisme and isme-isme yang lainnya (termasuk salome kali yah he he he). Tapi kok ga nerimo kritik, terus lu suka ‘monyong’ pada yang berbeda paham? Terus lu juga pernah bilang ahlusunnah wal jama’ah, tapi kok doyan ama bid’ah and ga ngikut pemahaman para ulama yang sesuai sunnah? Lu sendiri yang bilang poligami itu anti HAM, tapi kok masih rajin nikah-cerai and selingkuh? Bahkan konon ga sedikit yang sepaham dengan lu yang hamil di luar nikah. Terus ada yang keluarganya, terutama istri and anak-anaknya yang frustasi dan stress. Ga cukup di situ. Lu sering kampanyekan Islam rahmatan lil’aalamiin, tapi lu sendiri yang ga siap menerima orang yang berbeda dengan lu. Buktinya, kalau lu ngadain seminar atau kajian githu, lu ga segan-segan mencaci maki and menjelek-jelekin orang, organisasi and ormas yang lain selain milik lu. Ah lu, kalau ga punya duit ga perlu ngamen ke lembaga donor atau asing dengan menjual keyakinan (Islam) lu. Kacian ama hati nurani and keluarga lu sendiri. Apalagi kalau lu punya pengikut atau massa yang banyak, kan repot kalau lu membawa mereka ke jalan yang sesat. Hayo tobat aja deh!

Ya, kini kata-kata makin kabur maknanya, tak jelas gelap terangnya. Seluruh rumusan ideologi menjadi begitu nisbi, yang sewaktu-waktu bisa diputarbalikkan sesuai dengan hasrat tirani dan hedonis yang disetir oleh yang duduk di singgasana. Kebenaran (al-Haq) dan kebatilan (al-Bathil) dicampuraduk dengan rekayasa sistematik oleh manusia yang “beriman” kepada pragmatisme dan permisifisme.
Sahabat, kini tak ada cara lain, kecuali berhadapan langsung secara frontal dengan kata-kata mereka. Kata-kata yang kemudian menjadi istilah dengan makna dan pesan yang terkandung di dalamnya membingungkan bahkan menyesatkan kita. Ini agenda serius dan jangka panjang. Berbagai elemen umat Islam dengan berbagai macam dan bentuk medianya, perlu mengambil peran. Kita perlu berada pada satu titik kesadaran perang pemikiran. Kita perlu menjadikan Qs. al-Baqarah ayat 42 dalam tulisan kita sebagai landasan berpijak, sebagai ancang-ancang dalam melangkah.

Ya, aku hadir untuk mendobrak kebekuan umat manusia agar segera bangun dari tidur lelap dan segera menentukan keberpihakan: Al-Haq atau Al-Bathil. Karena hidup ini berpatok pada keberpihakan. Aku belajar “memaksa” sekaligus “memprovokasi” siapapun untuk bangun dari kasur stagnasi dan segera berkarya. Karena semuanya mesti berkontribusi. Aku ingin menegaskan satu hal bahwa jangan sampai dengan alasan keragaman ada orang yang dengan mudah “memperkosa” sumber dan prinsip-prinsip Islam kemudian “menyesatkan” manusia (baca: umat Islam) yang lain. Jika ada yang memilih untuk itu, maka dengan berbagai upaya, aku akan melawan dan menawannya secara intelektual. Rasakan renyah dan gurihnya! []

Cirebon, 6 Juni 2011

No comments:

Post a Comment