Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia

Tuesday, August 16, 2011

Al-Qur'an, Kemerdekaan dan Pengetahuan

Gegap gempita kemerdekaan RI sudah mulai terasa malam ini. Tak terasa, besok segenap pegawai negeri sipil dan pelajar akan melaksanakan upacara bendera sebagai sebuah penanda peringatan 66 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Bendera merah putih dipasang di depan rumah, menambah semarak kemerdekaan di usia republik yang tak lagi muda ini.

Ternyata bukan hanya kemerdekaan yang menyita perhatian kita. 17 Agustus tahun ini juga bertepatan momentumnya dengan tanggal 17 Ramadhan, momentum peringatan nuzulul qur'an. Di masjid-masjid diadakan pengajian untuk menyambutnya. Tadarrus mulai digalakkan sebagai sebuah penanda mulai turunnya Al-Qur'an dari Surah Al-Alaq: 1-5.

Rupanya, Ramadhan kali ini begitu istimewa. Dua momentum besar bertepatan dalam satu waktu. Dan dua momentum tersebut sangat berharga bagi umat Islam Indonesia. Apa yang mempertemukan keduanya?

Tujuan Kemerdekaan
Anies Baswedan merefleksikan kemerdekaan RI tahun ini dengan begitu mantap. "Narasi kemerdekaan bukanlah sebuah ekspresi cita-cita semata", tulisnya, "tetapi ia adalah janji. Pada setiap anak bangsa dijanjikan perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan dan bisa berperan di dunia global".



Artinya, kemerdekaan tidak hanya peringatan seremonial, bukan pula sebuah cita-cita tanpa makna, tetapi ia adalah janji untuk menggelar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dan janji itu bertitik tumpu pada narasi pembukaan UUD 1945, yang di antaranya menegaskan cita-cita luhur bangsa: memberi perlindungan bagi segenap warga Indonesia.

Ada empat tujuan berdirinya negara ini dalam pembukaan UUD 1945: memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidipan, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Keempat tujuan tersebut merefleksikan sebuah harapan bahwa bangsa Indonesia bukan sekadar bangsa yang menikmati kemerdekaannya karena diberi oleh penjajah, melainkan sebuah bangsa yang punya cita-cita besar. Perwujudan cita-cita itulah yang disebut oleh Anies Baswedan sebagai sebuah janji. Dan janji itu menunggu pelunasannya oleh para pemimpin bangsa!

Pelunasan janji itu tentu perlu pintu masuk. Bagaimana mewujudkan bangsa yang terjaga kedaulatannya, cerdas masyarakatnya, sejahtera warganya, dan kontributif terhadap perdamaian dunia?

Kata Anies Baswedan, mulailah dengan pendidikan.IItulah eskalator sosial ekonomi yang mengangkat derajat jutaan rakyat untuk mendapatkan yang dijanjikan: tercerdaskan dan tersejahterakan. Itulah jalan untuk memenuhi janji kemerdekaan yang sudah digariskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar.

Bangsa ini harus menjadi besar dengan pengetahuan. "Membaca", mereproduksi pengetahuan, adalah pintu gerbang peradaban. Artinya, jika bangsa ini ingin besar n, bangsa ini mesti memuliakan ilmu pengetahuan. Sebab, dengan pengetahuan-lah pintu-pintu gerbang kemajuan peradaban akan dapat dibuka.

Dan itu pula yang menjadi pesan Al-Qur'an ketika ia pertama kali diturunkan: Iqra' Bismirabbikalladzii Khalaq.

"Membaca"
Pada malam 17 Ramadhan, Allah menurunkan Al-Qur'an untuk pertama kalinya kepada Nabi Muhammad di Gua Hira. Wahyu pertama itu berisi lima ayat yang terangkum dalam Al-Alaq: 1-5.

Inti dari wahyu tersebut memiliki tiga perintah: membaca, menulis, dan mengajarkan. Dan lima ayat tersebut semuanya mengajarkan pada kita untuk memenuhi gerbang-gerbang pengetahuan sebelum kemudian mengamalkan dan mengajarkan Islam.

Al-''Ilm qabla 'amal. Begitu para ulama mengajarkan. Pengetahuan itu datang sebelum tindakan. Tindakan tanpa pengetahuan adalah bodoh, dan pengetahuan tanpa tindakan adalah sia-sia. Teori dan praxis harus berjalan seirama. Oleh sebab itu, Al-Qur'an mengajarkan kita untuk bangun dan memberi peringatan, selepas membaca dan mengajarkan pengetahuan.

Dan Islam dalam sejarahnya juga datang dengan pengetahuan. Peradaban Islam dibangun di atas fondasi iman, ilmu, dan amal. Trilogi tiga hal tersebut mencerminkan sebuah relasi transendensi-ontologi-praksis yang erat. Peradaban Umar ibn Abdul Aziz dibangun oleh semangat pengetahuan yang adil dan menyejahterakan. Peradaban Utsman ibn Affan dipompa oleh semangat untuk menuliskan pengetahuan, hingga sampailah Al-Qur'an Utsmani di hadapan kita hari ini.

Dan semangat itu pula yang perlu ditularkan dalam semangat kemerdekaan. Jika janji kemerdekaan adalah janji untuk menumpukan pembangunan di atas pengetahuan, bukankah Islam juga sejalan dengan hal itu?

Semangat kemerdekaan adalah semangat pengetahuan. Semangat Al-Qur'an juga berisi semangat pengetahuan. Dengan demikian, kemerdekaan dan Islam tak perlu dipertentangkan. Islam mengajarkan kita untuk mengisi kemerdekaan dengan pengetahuan, bukan dengan hura-hura atau nasionalisme tanpa ujung pangkal yang jelas.

Dan ini menandakan sebuah pertautan yang sangat jelas: kemerdekaan yang dipahami dalam perspektif Islam adalah kemerdekaan yang dibangun di atas fondasi pengetahuan. Kemerdekaan kita, umat Islam, seharusnya adalah kemerdekaan yang mencerahkan.

Tugas untuk membangun peradaban adalah dengan mereguk ilmu pengetahuan dan hikmah. Di sinilah bertemu iman, ilmu, dan amal dalam semangat kemerdekaan yang mencerahkan.

Ramadhan
Dengan demikian, bertemunya nuzulul qur'an dan peringatan kemerdekaan seharusnya dimaknai dengan semangat kembali pada pengetahuan. Dan pengetahuan jangan ditafsiri secara sempit, hanya pada tataran akademis.Belajar adalah menuntut ilmu sepanjang hayat.

Seorang mahasiswa belajar dengan kuliahnya. Seorang aktivis belajar dengan demonstrasinya. Seorang guru belajar dengan baktinya dalam mendidik siswa. Semua aktivitas di dunia ini adalah belajar untuk mendapatkan pengetahuan.

Ramadhan adalah bulan pembelajaran. Berpuasa pada hakikatnya adalah belajar menahan dan melawan hawa nafsu, agar di 11 bulan berikutnya dapat mengendalikan secara bijaksana. Bertarawih adalah belajar beribadah di malam hari ketika orang lain tengah beristirahat di tengah peraduannya.

Dan dalam kerangka berpikir yang transformatif, Ramadhan perlu ditransformasikan sebagai bulan pengetahuan. "Tadarrus" Al-Qur'an adalah bentuk menelaah pengetahuan secara interdisipliner. Membaca Al-Qur'an adalah membongkar realitas sosial secara kritis. Dan berpuasa adalah mengendalikan hawa nafsu yang kontraproduktif terhadap semangat menuntut pengetahuan.

Inilah Islam. Ajaran Islam diawali dengan perintah untuk mengumpulkan pengetahuan dengan jalan membaca. Adakah kita menjadikan bulan ini sebagai bulan untuk menuntut pengetahuan tersebut? Semoga konsisten dan semangat. Ramadhan Syahrul Ilm, Ramadhan Syahrul Qalaam.

Nashrun Minallah wa Fathun Qariib.

No comments:

Post a Comment

sponsor